Bagiku, Butterfly Era adalah saat hidup mengajarkan bahwa hal-hal paling indah sering kali datang tanpa rencana.
Aku bertemu dengannya bukan karena takdir yang dramatis. Kami diperkenalkan oleh seseorang, sesederhana itu. Tidak ada ekspektasi untuk saling jatuh cinta, apalagi membangun masa depan bersama. Kami hanya dua orang asing yang berniat menjadi teman bicara, mengisi waktu dengan obrolan-obrolan ringan tanpa tahu bahwa setiap percakapan diam-diam sedang menumbuhkan rasa.
Lucunya, justru aku yang paling keras menyangkalnya. Bukan karena tidak merasakan hal yang sama, melainkan karena masih membawa takut dari hubungan yang pernah gagal. Ada bagian dalam diriku yang terus berkata bahwa mencintai lagi hanya akan mengulang luka yang sama.
Namun, ia tidak pernah memintaku sembuh dalam semalam. Ia memilih tetap tinggal. Dengan sabar, ia menunjukkan bahwa cinta tidak selalu datang untuk menyakiti. Hari demi hari, ia membuatku percaya bahwa aku layak dicintai, layak diperjuangkan dan layak menjadi rumah bagi seseorang.
Pada akhirnya, bukan aku yang berhasil menemukan cinta, melainkan cinta yang perlahan menemukan jalannya kepadaku.
Kini aku menyadari, Butterfly Era versiku bukan tentang berubah menjadi seseorang yang baru. Melainkan tentang berani membuka hati sekali lagi, hingga akhirnya bertemu seseorang yang membuatku percaya bahwa setelah hujan yang panjang, kupu-kupu memang benar-benar ada.